Sejak usia 27 tahun, Pak Nanang sudah divonis menderita diabetes. Namun karena tuntutan kerja dan kurangnya pemahaman, penyakit itu dibiarkan tanpa pengobatan rutin. Luka kecil di kaki yang semula tampak sepele berubah menjadi infeksi parah, hingga akhirnya dokter menyarankan amputasi pada awal tahun 2025.
Kini memasuki usia 41 tahun, Pak Nanang Kurnia tetap berusaha tegar menjalani hari-harinya meski harus kehilangan satu kakinya akibat komplikasi diabetes yang dideritanya sejak muda. Bagi Pak Nanang, keputusan untuk amputasi bukanlah hal mudah, tapi justru ia sendiri yang memutuskan.

“Saya sudah siap, karena yang penting saya bisa selamat. Kalau dibiarkan, bisa menjalar ke atas. Jadi saya ikhlaskan, yang penting saya masih hidup dan bisa lihat anak-anak saya,” ujarnya tenang.
Kini, Pak Nanang tinggal bersama istri dan dua anaknya di Bekasi. Anak pertamanya baru lulus SMK, sementara yang bungsu masih duduk di bangku SMP. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia menjaga warung kecil di rumah. Namun sejak kehilangan kaki, aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Ia ingin kembali bisa beraktivitas tanpa harus terus bergantung pada istri atau keluarga.
“Yang bikin saya kuat itu istri saya, anak-anak saya, dan orang tua. Mereka yang selalu nyemangatin saya supaya nggak nyerah,” tambahnya.
Pak Nanang bermimpi bisa memiliki kaki palsu agar bisa beraktivitas lagi menjaga warung, berjalan, bahkan mengantar anaknya ke sekolah tanpa rasa sakit atau takut terjatuh. Ia ingin kembali menjalani hidup seperti dulu, meski dengan keterbatasan yang kini harus diterimanya. Dengan bantuan kita semua, Pak Nanang bisa kembali berdiri tegak dan berjalan kembali.
Dukungan kamu akan membantu biaya pembuatan kaki palsu Pak Nanang. Teman-teman Mari bantu Pak Nanang untuk kembali melangkah dan menjemput harapan baru. Setiap donasi membawa langkah kecil menuju kehidupan yang lebih layak.