Maulana, anak dua tahun yang ceria, berjalan kecil di samping ibunya. Namun takdir berkata lain. Dalam sekejap, suara kereta yang melintas merenggut segalanya sang ibu meninggal di tempat, dan kaki kecil Maulana ikut pergi bersama kenangan itu.

Kini, tujuh tahun sudah berlalu. Maulana tumbuh besar bersama sang ayah, Pak Pulung seorang pemulung yang hidup dari sisa-sisa barang bekas. Setiap hari ia memanggul karung di pundaknya, sementara di rumah, Maulana menunggu dengan senyum kecil dan kaki yang tak lagi utuh.
Semangat adik Maulana tak pernah hilang.
“Biar nggak punya kaki, yang penting bisa ngaji, bisa pinter,” katanya polos suatu sore. Kata-kata itu jadi cambuk bagi sang ayah yang tak bisa baca tulis agar anaknya kelak bisa hidup lebih baik dari dirinya.

Maulana dulu sempat memiliki kaki palsu bantuan, tapi kini sudah tak muat lagi. Ia tumbuh, sementara kaki palsunya tidak. Tanpanya, ia hanya bisa duduk di rumah, menatap teman-temannya berlari dan bermain dari kejauhan.
Pak Pulung ingin sekali melihat anaknya bisa berjalan lagi bukan karena kasihan, tapi karena ia tahu, di balik tubuh kecil itu ada semangat besar yang ingin melangkah mengejar mimpi.
Teman-teman ayo bersama kita bantu adik Maulana mendapatkan kaki palsu baru, agar langkah kecilnya kembali punya arah, dan agar senyum yang dulu terhenti di rel itu bisa berjalan lagi.
Klik Donasi sekarang